Senin, 19 November 2012

Sistem Operasi

Nama : Irwan Felani
NPM : 1057201000806

Algoritma-algoritma yang menerapkan strategi nonpreemptive diantaranya yaitu:

1.  First In First Out (FIFO) 
 
Merupakan :
· Penjadwalan tidak berprioritas.

FIFO adalah penjadwalan paling sederhana, yaitu :
· Proses-proses diberi jatah waktu pemroses berdasarkan waktu kedatangan.
· Pada saat proses mendapat jatah waktu pemroses, proses dijalankan sampai 
  selesai.

Penilian penjadwalan ini berdasarkan kriteria optimasi :
· Adil 
  Adil dalam arti resmi (proses yang datang duluan akan dilayani lebih dulu),
  tapi dinyatakan tidak adil karena job-job yang perlu waktu lama membuat 
  job-job pendek menunggu. Job-job yang tidak penting dapat membuat job-job 
  penting menunggu lam.
· Efisiensi
  Sangat efisien.
· Waktu tanggap
  Sangat jelek, tidak cocok untuk sistem interaktif apalagi untuk sistem 
  waktu nyata.
· Turn around time
  Jelek.
· Throughtput
  Jelek.

FIFO jarang digunakan secara mandiri, tetapi dikombinasikan dengan skema 
lain, misalnya :
· Keputusan berdasarkan prioritas proses. Untuk proses-pross berprioritas 
  sama diputuskan berdasarkan FIFO.

Penjadwalan ini :
a. Baik untuk sistem batch yang sangat jarang berinteraksi dengan pemakai. 
   Contoh : aplikasi analisis numerik, maupun pembuatan tabel.
b. Sangat tidak baik (tidak berguna) untuk sistem interaktif, karena tidak 
   memberi waktu tanggap yang baik.
c. Tidak dapat digunakan untuk sistem waktu nyata (real-time applications).

 
2.  Shortest Job First (SJF) 
 
Penjadwalan ini mengasumsikan waktu jalan proses sampai selesai diketahui 
sebelumnya. Mekanismenya adalah menjadwalkan proses dengan waktu jalan 
terpendek lebih dulu sampai selesai, sehingga memberikan efisiensi yang 
tinggi dan turn around time rendah dan penjadwalannya tak berprioritas.

Contoh :
Terdapat empat proses (job) yaitu A,B,C,D dengan waktu jalannya masing-masing
adalah 8,4,4 dan 4 menit. Apabila proses-proses tersebut dijalankan, maka 
turn around time untuk A adalah 8 menit, untuk B adalah 12, untuk C adalah 
16 dan untuk D adalah 20. Untuk menghitung rata-rata turn around time seluruh
proses adalah dengan menggunakan rumus :

                       ( 4a + 3b + 2c + 1d ) / 4

Dengan menggunakan rumus, maka dapat dihitung turn around time-nya sebagai 
berikut (belum memperhatikan shortest job first, lihat gambar a) :

=  ( 4a + 3b + 2c + 1d ) / 4
=  ( 4x8 + 3x4 + 2x4 + 1x4 ) / 4
=  ( 32 + 12 + 8 + 4 ) / 4
=  56 / 4
=  14 menit

Apabila keempat proses tersebut menggunakan penjadwalan shortest job fisrt 
(lihat gambar b), maka turn around time untuk B adalah 4, untuk C adalah 8, 
untuk D adalah 12 dan untuk A adalah 20, sehingga rata-rata turn around 
timenya adalah sebagai berikut :

=  ( 4a + 3b + 2c + 1d ) / 4
=  ( 4x4 + 3x4 + 2x4 + 1x8 ) / 4
=  ( 16 + 12 + 8 + 8 ) / 4
=  44 / 4
=  11 menit


Tidak memperhatikan SJF      Memperhatikan SJF

Posisi   : a     b   c   d          a   b   c    d
Priority : 4     3   2   1          4   3   2    1    
Job  : A     B   C   D          B   C   D    A
      
         +-----------------+      +-----------------+  
         :  8  : 4 : 4 : 4 :      : 4 : 4 : 4 :  8  :
         +-----------------+      +-----------------+
                  (a)                    (b)

Jelas bahwa a memberikan nilai kontribusi yang besar, kemudian b, c dan d. 
Karena SJF selalu memperhatikan rata-rata waktu respon terkecil, maka sangat 
baik untuk proses interaktif. Umumnya proses interaktif memiliki pola, yaitu 
menunggu perintah, menjalankan perintah, menunggu perintah dan menjalankan 
perintah, begitu seterusnya.

Masalah yang muncul adalah :
· Tidak mengetahui ukuran job saat job masuk.
  Untuk mengetahui ukuran job adalah dengan membuat estimasi berdasarkan 
  kelakukan sebelumnya.
· Proses yang tidak datang bersamaan, sehingga penetapannya harus dinamis.
  Penjadwalan ini jarang digunakan, karena merupakan kajian teoritis untuk 
  pembandingan turn around time.
 
 
Algoritma-algoritma yang menerapkan strategi preemptive diantaranya yaitu:

1. Round Robin (RR) 
 
Merupakan :
· Penjadwalan yang paling tua, sederhana, adil,banyak digunakan algoritmanya 
  dan mudah diimplementasikan.
· Penjadwalan ini bukan dipreempt oleh proses lain tetapi oleh penjadwal 
  berdasarkan lama waktu berjalannya proses (preempt by time).
· Penjadwalan tanpa prioritas.
· Berasumsi bahwa semua proses memiliki kepentingan yang sama, sehingga tidak
  ada prioritas tertentu.
Semua proses dianggap penting sehingga diberi sejumlah waktu oleh pemroses 
yang disebut kwanta (quantum) atau time slice dimana proses itu berjalan.
Jika proses masih running sampai akhir quantum, maka CPU akan mempreempt 
proses itu dan memberikannya ke proses lain.
Penjadwal membutuhkannya dengan memelihara daftar proses dari runnable. 
Ketika quantum habis untuk satu proses tertentu, maka proses tersebut akan 
diletakkan diakhir daftar (list), seperti nampak dalam gambar berikut ini :

  Proses Proses                        Proses
  saat   berikutnya                    saat
  ini     |                            ini
   |      |                              |
   V      V                              V
 +---+  +---+  +---+  +---+  +---+     +---+  +---+  +---+  +---+  +---+
 : B :--: F :--: D :--: G :--: A :     : B :--: F :--: D :--: G :--: A :
 +---+  +---+  +---+  +---+  +---+     +---+  +---+  +---+  +---+  +---+

Gambar 4.1(a) : Daftar proses runnable.
       4.1(b) : Daftar proses runnable sesudah proses b habis quantumnya.

Algoritma yang digunakan :
1. Jika kwanta habis dan proses belum selesai, maka proses menjadi runnable 
   dan pemroses dialihkan ke proses lain.
2. Jika kwanta belum habis dan proses menunggu suatu kejadian (selesainya 
   operasi I/O), maka proses menjadi blocked dan pemroses dialihkan ke 
   proses lain.
3. Jika kwanta belum habis tetapi proses telah selesai, maka proses diakhiri 
    dan pemroses dialihkan ke proses lain.

Diimplementasikan dengan :
1. Mengelola senarai proses ready (runnable) sesuai urutan kedatangan.
2. Ambil proses yang berada di ujung depan antrian menjadi running.
3. Bila kwanta belum habis dan proses selesai, maka ambil proses di ujung 
   depan antrian proses ready.
4. Jika kwanta habis dan proses belum selesai, maka tempatkan proses running 
   ke ekor antrian proses ready dan ambil proses di ujung depan antrian 
   proses ready.

Masalah yang timbul adalah menentukan besar kwanta, yaitu :
· Kwanta terlalu besar menyebabkan waktu tanggap besar dan turn arround time 
  rendah.
· Kwanta terlalu kecil menyebabkan peralihan proses terlalu banyak sehingga 
  menurunkan efisiensi proses.
Switching dari satu proses ke proses lain  membutuhkan kepastian waktu yang 
digunakan untuk administrasi, menyimpan, memanggil nilai-nilai register, 
pemetaan memori, memperbaiki tabel proses dan senarai dan sebagainya. 
Mungkin proses switch ini atau konteks switch membutuhkan waktu 5 msec 
disamping waktu pemroses yang dibutuhkan untuk menjalankan proses tertentu. 
Dengan permasalahan tersebut tentunya harus ditetapkan kwanta waktu yang 
optimal berdasarkan kebutuhan sistem dari hasil percobaan atau data historis.
Besar kwanta waktu beragam bergantung beban sistem. Apabila nilai quantum 
terlalu singkat akan menyebabkan terlalu banyak switch antar proses dan 
efisiensi CPU akan buruk, sebaliknya bila nilai quantum terlalu lama akan 
menyebabkan respon CPU akan lambat sehingga proses yang singkat akan menunggu
lama. Sebuah quantum sebesar 100 msec merupakan nilai yang dapat diterima.

Penilaian penjadwalan ini berdasarkan kriteria optimasi :
· Adil 
  Adil bila dipandang dari persamaan pelayanan oleh pemroses.
· Efisiensi
  Cenderung efisien pada sistem interaktif.
· Waktu tanggap
  Memuaskan untuk sistem interaktif, tidak memadai untuk sistem waktu nyata.
· Turn around time
  Cukup baik.
· Throughtput
  Cukup baik.

Penjadwalan ini :
a. Baik untuk sistem interactive-time sharing dimana kebanyakan waktu 
   dipergunakan menunggu kejadian eksternal.  
   Contoh : text editor, kebanyakan waktu program adalah untuk menunggu 
   keyboard, sehingga dapat dijalankan proses-proses lain.
b. Tidak cocok untuk sistem waktu nyata apalagi hard-real-time applications.

2. Multiple Feedback Queues (MFQ) 
 
Merupakan :
· Penjadwalan berprioritas dinamis
Penjadwalan ini untuk mencegah (mengurangi) banyaknya swapping dengan proses-
proses yang sangat banyak menggunakan pemroses (karena menyelesaikan tugasnya
memakan waktu lama) diberi jatah waktu (jumlah kwanta) lebih banyak dalam 
satu waktu. Penjadwalan ini juga menghendaki kelas-kelas prioritas bagi 
proses-proses yang ada. Kelas tertinggi berjalan selama satu kwanta, kelas 
berikutnya berjalan selama dua kwanta, kelas berikutnya berjalan empat 
kwanta, dan seterusnya. 
Ketentuan yang berlaku adalah sebagai berikut 
· Jalankan proses pada kelas tertinggi.
· Jika proses menggunakan seluruh kwanta yang dialokasikan, maka diturunkan 
  kelas prioritasnya.
· Proses yang masuk untuk pertama kali ke sistem langsung diberi kelas 
  tertinggi.
Mekanisme ini mencegah proses yang perlu berjalan lama swapping berkali-kali 
dan mencegah proses-proses interaktif yang singkat harus menunggu lama. 
 
3.  Shortest Remaining First (SRF) 
 
Merupakan :
· Penjadwalan berprioritas.dinamis.
· Adalah preemptive untuk timesharing
· Melengkapi SJF
Pada SRF, proses dengan sisa waktu jalan diestimasi terendah dijalankan, 
termasuk proses-proses yang baru tiba.
· Pada SJF, begitu proses dieksekusi, proses dijalankan sampai selesai.
· Pada SRF, proses yang sedang berjalan (running) dapat diambil alih proses 
  baru dengan sisa waktu jalan yang diestimasi lebih rendah.

Kelemahan :
· Mempunyai overhead lebih besar dibanding SJF. SRF perlu penyimpanan waktu 
  layanan yang telah dihabiskan job dan kadang-kadang harus menangani 
  peralihan.
· Tibanya proses-proses kecil akan segera dijalankan.
· Job-job lebih lama berarti dengan lama dan variasi waktu tunggu lebih lama
  dibanding pada SJF.
SRF perlu menyimpan waktu layanan yang telah dihabiskan , menambah overhead. 
Secara teoritis, SRF memberi waktu tunggu minimum tetapi karena overhead 
peralihan, maka pada situasi tertentu SFJ bisa memberi kinerja lebih baik 
dibanding SRF.
 
4.  Highest Ratio Next (HRN) 
 
Merupakan :
· Penjadwalan berprioritas dinamis.
· Penjadwalan untuk mengoreksi kelemahan SJF. 
· Adalah strategi penjadwalan dengan prioritas proses tidak hanya merupakan 
  fungsi waktu layanan tetapi juga jumlah waktu tunggu proses. Begitu proses 
  mendapat jatah pemroses, proses berjalan sampai selesai.
Prioritas dinamis HRN dihitung berdasarkan rumus :
Prioritas = (waktu tunggu + waktu layanan ) / waktu layanan
Karena waktu layanan muncul sebagai pembagi, maka job lebih pendek 
berprioritas lebih baik, karena waktu tunggu sebagai pembilang maka proses 
yang telah menunggu lebih lama juga mempunyai kesempatan lebih bagus.
Disebut HRN, karena waktu tunggu ditambah waktu layanan adalah waktu tanggap,
yang berarti waktu tanggap tertinggi yang harus dilayani.
 
5. Priority Schedulling (PS) 
 
Adalah tiap proses diberi prioritas dan proses yang berprioritas tertinggi 
mendapat jatah waktu lebih dulu (running).  Berasumsi bahwa masing-masing 
proses memiliki prioritas tertentu, sehingga akan dilaksanakan berdasar 
prioritas yang dimilikinya. Ilustrasi yang dapat memperjelas prioritas 
tersebut adalah dalam komputer militer, dimana proses dari jendral 
berprioritas 100, proses dari kolonel 90, mayor berprioritas 80, kapten 
berprioritas 70, letnan berprioritas 60 dan seterusnya. Dalam UNIX perintah 
untuk mengubah prioritas menggunakan perintah nice. 

Pemberian prioritas diberikan secara :
a. Statis (static priorities)
   Berarti prioritas tidak berubah.
   Keunggulan :
   · Mudah diimplementasikan.
   · Mempunyai overhead relatif kecil.
   Kelemahan :
   · Tidak tanggap terhadap perubahan lingkungan yang mungkin menghendaki 
     penyesuaian prioritas.
b. Dinamis (dynamic priorities)
   Merupakan mekanisme untuk menanggapi perubahan lingkungan sistem 
   beroperasi. Prioritas awal yang diberikan ke proses mungkin hanya berumur 
   pendek setelah disesuaikan ke nilai yang lebih tepat sesuai lingkungan.
   Kelemahan :
   · Implementasi mekanisme prioritas dinamis lebih kompleks dan mempunyai 
     overhead lebih besar. Overhead in diimbangi dengan peningkatan daya 
     tanggap sistem.
   Contoh penjadwalan berprioritas :
   Proses-proses yang sangat banyak operasi masukan/keluaran menghabiskan 
   kebanyakan waktu menunggu selesainya operasinya masukan/keluaran. 
   Proses-proses ini diberi prioritas sangat tinggi sehingga begitu proses 
   memerlukan pemroses segera diberikan, proses akan segera memulai 
   permintaan masukan/keluaran berikutnya sehingga menyebabkan proses blocked
   menunggu selesainya operasi masukan/keluaran. Dengan demikian pemroses 
   dapat dipergunakan proses-proses lain. Proses-proses I/O berjalan paralel 
   bersama proses-proses lain yang benar-benar memerlukan pemroses, sementara
   proses-proses I/O itu menunggu selesainya operasi DMA. 
   Proses-proses yang sangat banyak operasi I/O-nya, kalau harus menunggu 
   lama untuk memakai pemroses (karena prioritas rendah) hanya akan membebani
   memori, karena harus disimpan tanpa perlu proses-proses itu dimemori 
   karena tidak selesai-selesai menunggu operasi masukan dan menunggu jatah 
   pemroses.

Dalam algoritma berprioritas dinamis dituntun oleh keputusan untuk memenuhi 
kebijaksanaan tertentu yang menjadi tujuan. Layanan yang bagus adalah menset 
prioritas dengan nilai 1/f, dimana f adalah ration kwanta terakhir yang 
digunakan proses.
Contoh :
· Proses yang menggunakan 2 msec kwanta 100 ms, maka prioritasnya50.
· Proses yang berjalan selama 50 ms sebelum blocked berprioritas 2.
· Proses yang menggunakan seluruh kwanta berprioritas 1.
Kebijaksanaan yang diterapkan adalah jaminan proses-proses mendapat layanan 
adil dari pemroses dalam arti  jumlah waktu pemroses yang sama.
Keunggulannya penjadwalan berpriorita adalah memenuhi kebijaksanaan yang 
ingin mencapai maksimasi suatu kriteria diterapkan.
Algoritma ini dapat dikombinasikan, yaitu dengan mengelompokkan proses-proses
menjadi kelas-kelas prioritas. Penjadwalan berprioritas diterapkan antar 
kelas-kelas proses itu. 
Algoritma penjadwal akan menjalankan : proses runnable untuk prioritas 4 
lebih dulu secara round robin, apabila kelas 4 semua sudah diproses, 
selanjutnya akan menjalankan proses runnable untuk prioritas 3 secara round 
robin, apabila kelas 3 semua sudah diproses (habis), selanjutnya akan 
menjalankan proses runnable untuk prioritas 2 secara round robin, dan 
seterusnya, seperti dalam gambar berikut :


 Queues header                    Runnable processes
                     |=======================================|
 +------------+      +---+    +---+    +---+
 : Priority 4 :------:   :----:   :----:   :             (Highest priority)  
 :            :      +---+    +---+    +---+
 +------------+      +---+    +---+    +---+    +---+    +---+ 
 : Priority 3 :------:   :----:   :----:   :----:   :----:   :       
 :            :      +---+    +---+    +---+    +---+    +---+
 +------------+      +---+
 : Priority 2 :------:   :  
 :            :      +---+
 +------------+
 : Priority 1 :                                          (Lowest priority)
 :            :      
 +------------+
 
6. Guaranteed Schedulling (GS) 
 
Penjadwalan ini memberikan janji yang realistis (memberi daya pemroses yang 
sama) untuk membuat dan menyesuaikan performance adalah jika ada N pemakai, 
sehingga setiap proses (pemakai) akan mendapatkan 1/N dari daya pemroses CPU.
Untuk mewujudkannya, sistem harus selalu menyimpan informasi tentang jumlah 
waktu CPU untuk semua proses sejak login dan juga berapa lama pemakai sedang 
login. Kemudian jumlah waktu CPU, yaitu waktu mulai login dibagi dengan n, 
sehingga lebih mudah menghitung rasio waktu CPU. Karena jumlah waktu pemroses
tiap pemakai dapat diketahui, maka dapat dihitung rasio antara waktu pemroses
yang sesungguhnya harus diperoleh, yaitu 1/N waktu pemroses seluruhnya dan 
waktu pemroses yang telah diperuntukkan proses itu.
Rasio 0,5 berarti sebuah proses hanya punya 0,5 dari apa yang waktu CPU 
miliki dan rasio 2,0 berarti sebuah proses hanya punya 2,0 dari apa yang 
waktu CPU miliki. Algoritma akan menjalankan proses dengan rasio paling 
rendah hingga naik ketingkat lebih tinggi diatas pesaing terdekatnya. 
Ide sederhana ini dapat diimplementasikan ke sistem real-time dan memiliki 
penjadwalan berprioritas dinamis.
 
source: http://id.wikipedia.org/wiki
http://kuliah.dinus.ac.id


Tidak ada komentar:

Posting Komentar